Pontianak, 10 Agustus 2022 - Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat - Revolusi industri 4.0 telah memberikan dorongan baru bagi transformasi dunia pendidikan dalam beberapa tahun terakhir sejalan dengan perkembangan teknologi informasi semakin pesat. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memuat semua teknologi yang berhubungan dengan penanganan informasi yang meliputi pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.
Guru harus dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penguatan dan pengembangan aspek utama pendidikan seperti konten,pedagogi dan manajemen pendidikan. Namun pada kenyataannya masih banyak guru-guru yang belum mampu menguasai apalagi memanfaatkan TIK secara utuh di dalam proses tersebut. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dimaksud disini dalam bentuk Software Maupun Hardware maupun Tools, Sebut saja Smartphone dan Aplikasi – aplikasi didalamnya, Internet yang mencakup Platform Website Pembelajaran maupun Sosial Media. Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kegiatan selama 3 hari kepada guru-guru untuk meningkatkan dan memanfaatkan teknologi Informasi tersebut. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala BPMP Kalmantan Barat Bapak Iwan Kurniawan, S.Si. M.Si . adapun Kegatan ini mulai diselenggarakan pada 4 s.d 6 Agustus 2022 angkatan pertama.  saat ini masih berlangsung angkatan kedua. direncanakan kegiatan ini dilaksanakan hingga angkatan  kelima.
Tujuan dari kegiatan pelatihan ini yaitu peserta dapat memahami beragam teknologi yang terkait pembelajaran, memahami adanya beragam platform digital untuk pembelajaran dan mampu mengakses serta menggunakan platform Merdeka Mengajar.

 

Padang, Kemendikbudristek --- SMP Negeri 39 Padang merupakan salah satu Sekolah Penggerak di Provinsi Sumatra Barat yang berlokasi di pinggir pantai, tepatnya di Pantai Purus, Kota Padang. Sekolah ini berhasil menerapkan projek profil pelajar Pancasila dengan mengambil tema kewirausahaan. Siswa SMPN 39 Padang berhasil menyulap sampah langkitang yang banyak ditemukan di sepanjang pinggir pantai, menjadi produk kerajinan yang mempunyai nilai jual.
 
Langkitang (melanoides tuberculata) merupakan jenis siput air tawar yang hidup di danau, sungai, hingga muara. Cangkang langkitang berwarna hitam dengan bentuk memanjang dan ramping. Isi (moluska) di dalam cangkangnya bisa disantap sebagai kudapan. Langkitang menjadi salah satu kudapan favorit yang dijual pedagang makanan di sepanjang Pantai Padang, sehingga banyak sampah dari cangkang langkitang yang berserakan di pinggir pantai.
 
Kepala SMPN 39 Padang, Erawati, mengatakan untuk projek profil pelajar Pancasila, SMPN 39 Padang memilih tema kewirausahaan dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar yang memiliki nilai jual. Mereka pun lalu memanfaatkan sampah langkitang. Erawati menceritakan kisah awal dirinya terinspirasi untuk mengolah sampah langkitang menjadi karya atau produk yang memiliki nilai jual.
 
“Jadi sudah lama saya perhatikan. Banyak sampah kulit langkitang hampir di sepanjang pantai, tapi pemulung tidak terpikir untuk mengambilnya. Lalu saya berpikir, kenapa ini tidak dimanfaatkan? Jadi saya agak sedikit memaksa kepada guru prakarya. Saya bilang begini, prakarya itu kan apapun materinya dari MGMP biasanya kan sama, misalnya membuat sesuatu. Jadi coba bahan dasarnya dari langkitang. Terserah mau dibuat apa. Pokoknya bahannya langkitang,” tutur Erawati di sela-sela kegiatan audiensi implementasi Kurikulum Merdeka di Kantor Wali Kota Padang, Selasa (2-8-2022).
 
Kemudian SMPN 39 Padang memulai projek profil pelajar Pancasila untuk tema kewirausahaan dengan membuat asbak rokok dari cangkang langkitang. Setelah itu para siswa dan guru mencari inspirasi lain di internet maupun sumber lain untuk membuat produk kerajinan lain dari kerang. “Sekarang sudah ada banyak bentuknya. Ada cermin, kemudian tempat pensil. Jadi idenya dari situ,” ujar Erawati.
 
Ia mengatakan, pembelajaran berbasis projek (project based learning) seperti membuat karya dari langkitang, berbeda dengan metode pembelajaran lain di kelas. Menurutnya, pembelajaran berbasis projek lebih menyenangkan bagi siswa. “Ketika projek, siswa menganggapnya seperti main-main, padahal sebenarnya mereka kita nilai saat mengerjakan sesuatu, jadi ada proses yang kita nilai,” katanya.
Projek siswa SMPN 39 Padang yang mengubah sampah langkitang menjadi karya yang memiliki nilai jual tersebut membuat nama SMPN 39 Padang menjadi lebih dikenal masyarakat. Erawati menuturkan, sebelumnya tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan SMPN 39 Padang, apalagi sekolah itu baru berdiri selama enam tahun. Hasil produk kerajinan dari langkitang yang diproduksi siswa SMPN 39 sempat dipamerkan pada Festival Ekraf Milenial di Kota Pariaman pada bulan Juli lalu.
“Saya ingin memperkenalkan sekolah ini dengan cara yang lain dari sekolah yang lain. Sekolah lain mungkin brand sekolahnya sekolah tahfiz atau juara OSN (Olimpiade Sains Nasional). Jadi memang sekolah kami bukan menjadi pilihan, karena itu kita cari cara lain dengan mengasah kemampuan kewirausahaan agar dikenal masyarakat,” ujarnya.
 
Tema kewirausahaan menjadi salah satu dari tujuh tema pilihan untuk diangkat dalam projek profil pelajar Pancasila. Keenam tema lainnya yaitu Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, dan Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI.
 
Dalam tema kewirausahaan, peserta didik merancang strategi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal. Kegiatan dalam projek ini bisa berupa kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi untuk menghasilkan karya bernilai jual, atau kegiatan lain yang ditindaklanjuti dengan proses analisis dan refleksi dari hasil kegiatan peserta didik. Projek ini diharapkan bisa menumbuhkembangkan kreativitas dan budaya kewirausahaan untuk peserta didik. Selain itu, peserta didik juga dapat membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas

Lombok Utara, 4 Agustus 2022 – Implementasi Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan untuk semua satuan pendidikan di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan SDM yang unggul dalam berbagai bidang di masa depan. Salah satunya dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih materi ilmu yang ingin mereka dalami.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wartanto mengatakan Kurikulum Merdeka sesungguhnya memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada peserta didik memilih materi pembelajaran. "Dengan Kurikulum Merdeka, proses pembelajaran akan lebih maksimal sehingga peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya," jelas Wartanto saat kunjungan kerja terkait Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (4/8).

“Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan pun benar-benar menguasai apa yang mereka pelajari sehingga lulusan pun akan lebih kompeten di bidangnya,” ucapnya.

Di sisi lain, selain menyiapkan siswa menjadi SDM yang unggul dan kompeten, tutur Wartanto, guru juga bisa lebih leluasa memilih metode dan perangkat ajar dalam proses belajar mengajar. "Jadi, Kurikulum Merdeka bukan hanya memberikan kebebasan kepada peserta didik, tetapi juga gurunya,” ujarnya.

Untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, pemerintah sudah memberikan fasilitas yang memudahkan sekolah dan guru yang dapat menggunakan bahan-bahan yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM) maupun mengunduh panduan dan buku-buku teks yang tersedia di laman https://kurikulum.kemdikbud.go.id.

Praktik Baik Satuan Pendidikan Menerapkan Kurikulum Merdeka

Wartanto menerangkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka yang masih baru membuat masih ada sekolah atau guru yang belum begitu familiar. Oleh karena itu, dalam penerapannya satuan pendidikan dapat menyesuaikan dengan kemampuan dan sarana prasarana sesuai kondisi sekolah.

"Jadi, tidak perlu memaksakan diri dengan mengadakan sarana prasarana yang mengada-ngada. Itu jelas tidak benar. Tahun ini dan tahun depan (2023) belum wajib sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka. Tahun 2024 mendatang, baru sekolah harus mampu menerapkan Kurikulum Merdeka. Hal ini juga harus disesuaikan dengan kondisi sekokah dan kemampuan guru," ujar Wartanto.

Meski demikian, kebanyakan satuan pendidikan di Lombok Utara sudah siap menerapkan Kurikulum Merdeka. Salah satunya Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Gondang yang dikunjungi jajaran Kemendikburistek.

Kepala SDN 05 Gondang, Tirmizi menyatakan bahwa sekolahnya siap melaksanakan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, sejak awal pihaknya mendaftar untuk menjadi salah satu sekolah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka.

"Jadi, niat kami sudah bulat ingin menerapkan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, kami sudah mendaftar di awal pengumuman sehingga tepat pada tahun ajaran baru ini sekolah sudah menerapkan Kurikulum Merdeka Mandiri Berubah," jelas Tirmizi.

Tirmizi mengaku, sekolahnya masuk menjadi salah satu dari 16 SD yang ikut menerapkan Kurikulum Merdeka Mandiri Berubah. Sebelum tahun ajaran baru, sekolahnya sudah mengikuti workshop pengenalan implementasi Kurikulum Merdeka yang digelar Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Lombok Utara.

"Jadi, kami para sekolah dan guru-guru dari 16 SD di Lombok Utara sedikit banyak sudah dikenalkan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka. Memang saat ini baru diterapkan di kelas 1 dan kelas 4 dulu. Pertama, kelas satu peserta didiknya belum mengenal metode pelajaran dan bahan ajar. Sementara kelas 4 sudah pernah mendapat Kurikulum 2013 (K-13). Dengan begitu, ada dua perbedaan pengalaman, baik guru maupun peserta didiknya," jelas Tirmizi.

Diakui Tirmizi, sekolahnya selama ini sudah ada proyektor dari dana BOS tahun-tahun sebelumnya yang belum digunakan secara maksimal. “Dengan menerapkan Kurikulum Merdeka ini, kami manfaatkan optimal. Tiap kelas kita pasang proyektor, khususnya di kelas 1 dan 4 yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Selain itu, untuk memperlancar tugas guru, sekolah juga memasang internet,” tuturnya.

Dengan begitu, lanjut Tarmizi, guru dapat mudah mengakses platform yang diberikan Kemendikbudristek sehingga mudah mendapat bahan ajar yang akan didiskusikan kepada peserta didik. “Di sisi lain, peserta didik juga diberikan materi-materi yang terdapat dalam Kurikulum Merdeka sehingga peserta didik sudah tahu dan guru hanya fasilitator,” tandasnya.

Kesiapan implementasi Kurikulum Merdeka juga disampaikan oleh guru SDN 05 Gondang, Husnul Mariati. Sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka, Husnul mengaku menggunakan Kurikulum 2013 (K-13). "Sebagai ujung tombak kami siap dengan Kurikulum Merdeka. Karena sebenarnya, perbedaannya sedikit antara K-13 dengan Kurikulum Merdeka. Kalau Kurikulum K-13 sesuai dengan tema, sedangkan Kurikulum Merdeka tema disesuaikan dengan kondisi," jelas Husnul, yang pada semester ini mengajar kelas 4.

Menurut Husnul, ketika menggunakan K-13, saat guru memulai mengajar, peserta didik bertanya tema pembelajaran. "Nah, sekarang mereka bisa menentukan mau belajar apa, guru hanya fasilitator,” terangnya.

Lebih lanjut Husnul mengatakan, Kurikulum 2013 dirancang berdasarkan tujuan Sistem Pendidikan Nasional dan Standar Nasional Pendidikan. Sementara itu, Kurikulum Merdeka menambahkan pengembangan Profil Pelajar Pancasila.

Berbagai kesiapan sekolah terkait implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan di Lombok Utara tidak lepas dari dukungan penuh yang diberikan oleh Bupati Lombok Utara, Djohan Sjamsu. "Kami sepenuhnya mendukung program dan kebijakan pemerintah pusat, termasuk kebijakan penerapan Kurikulum Merdeka, yang ada di sekolah-sekolah di Lombok Utara," kata Djohan.

Turut serta dalam kunjungan kerja ini, Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Nusa Tenggara Barat, Suka; Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara, Adenan, dan tim implementasi Kurikulum Merdeka.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Laman: kemdikbud.go.id

Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 487/sipers/A6/VIII/2022

Pontianak, 3 Agustus 2022 - Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Barat telah mengadakan kegiatan Uji Petik Dapodik Angkatan 1 dan 2 yang dilaksanakan di Kabupaten Kota se Provinsi Kalimantan Barat mulai dari tanggal 24-26 Juli 2022 (Angkatan 1) dan 31 Juli-3 Agustus 2022 (Angkatan 2).
Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan melakukan pemeriksaan langsung di satuan pendidikan terpilih terkait pengisian Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang telah dilakukan.  Adapun pemeriksaan data meliputi : (1) Data Satuan Pendidikan, (2) Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (3) Data Peserta Didik, (4) Data Rombongan Belajar, dan (5) Data Sarana dan Prasarana.
Hasil dari kegiatan uji petik ini nantinya untuk memastikan kecocokan data riil di lapangan dengan data yang di isi di aplikasi Dapodik sehingga dapat meningkatkan validitas data baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
BPMP Provinsi Kalimantan Barat
Maju Bersatu, Pendidikan Bermutu !

 

#bpmpkalbar
#ujipetikdapodik
#dapodik
#kurikulummerdeka
#merdekabelajar

Sintang, BPMP Prov. Kalbar. Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Barat, Iwan Kurniawan, S.Si, M.Si melakukan kunjungan kerja ke kabupaten Sintang pada 19-20 Juli 2022. Kunjungan kerja ini adalah upaya pemantauan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) sebagai salah satu paket Merdeka Belajar episode ke-15 yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kunjungan kerja IKM disambut oleh Bupati Sintang, dr. H. Jarot Winarno, M.Med.PH di pendopo bupati Sintang. Dalam kesempatan tersebut bupati Sintang mendukung IKM sebagai transformasi pembelajaran yang mandiri dan berkelanjutan. Hadir mendampingi kepala BPMP dalam kunjungan tersebut adalah kepala dan sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kabupaten Sintang.

Kunjungan kerja ini merupakan upaya advokasi dan sinergi Kemendikbudristek dengan pemerintah daerah dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya mengenai IKM. Sebagai program pendidikan nasional, Kurikulum Merdeka menjawab berbagai persoalan yang selama ini terjadi di masyarakat karena miskonsepsi.
 
Pada kesempatan yang berbeda, dukungan IKM juga diutarakan kepala Disdikbud kabupaten Sintang, Drs. Lindra Azmar, M.Si ketika menerima kunjungan di ruang kerja sekretaris Disdikbud kabupaten Sintang. Menurut Lindra, kabupaten Sintang telah melakukan sosialisasi IKM kepada guru yang tersebar di seluruh kecamatan se-kabupaten Sintang melalui orientasi IKM di aula Keling Kumang, Sintang.  

Kepala BPMP saat memberikan penguatan mengenai kepentingan mengapa Kemendikbudristek perlu menyesuaikan kurikulum adalah: (1) hasil belajar siswa secara kolektif belum menggembirakan. Karenanya perlu peningkatan strategi dan metode pembelajaran. Salah satunya dengan penyesuaian kurikulum. Melalui Kurikulum Merdeka memberi kesempatan yang luas dalam pengembangan kemampuan siswa khususnya dalam aspek literasi dan numerasi, berfikir kritis dan kolaboratif, (2) pandemi Covid19 memengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Proses belajar mengajar menjadi terhambat. Akhirnya capaian hasil belajar siswa menjadi semakin menurun.

“Ibarat orang yang sedang sakit,” kata kepala BPMP,”diperlukan upaya pemulihan pembelajaran dengan segera. Yaitu konsumsi makanan serta nutrisi yang mudah dicerna. Keunggulan mengenai muatan yang lebih sederhana inilah yang menjadikan Kurikulum Merdeka lebih fleksibel daripada kurikulum sebelumnya”. Namun begitu,”Kurikulum Merdeka tidak serta merta meninggalkan Kurikulum 2013 (K-13). Pada dasarnya prinsip Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan sekolah tergantung kesiapannya. Bagi sekolah yang siap disilakan mengimplementasikan setelah mengisi survei kesiapan Kurikulum Merdeka. Bagi sekolah yang belum siap, Kurikulum Merdeka bukan keharusan yang bersifat paksaan”, tambah kepala BPMP Provinsi Kalimantan Barat.

Di hari kedua kunjungan kepala BPMP Provinsi Kalimantan Barat berkesempatan meninjau IKM di SDN 05, SMPN Panca Setya 2 dan SMAN 2 Sintang. Selain melakukan tinjauan langsung IKM, kepala BPMP memberikan penguatan kepada sekolah agar senantiasa berani mencoba, berani belajar mandiri dan berani mengaktualisasi diri. Melalui IKM yang di dalamnya terdapat Platform Merdeka Mengajar diharapkan menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi setiap guru untuk bisa mengajar dengan percaya diri, mudah dimengerti dan akhirnya menaikkan capaian hasil belajar siswa menjadi bernilai tinggi.

Mari bergerak bersama. Wujudkan pembelajaran yang menyenangkan, berkeadilan dan merata. Maju Bersatu, Pendidikan Bermutu.

#implementasikurikulummerdeka
#sekolahpenggerak
#platformmerdekamengajar
#merdekabelajar
#balaipenjaminanmutupendidikan

 

Kemendikbudristek, Surabaya - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan koordinasi dan sinkronisasi data untuk Formasi Guru Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Sama (PPPK) 2022. Upaya yang dilakukan melalui rangkaian rapat koordinasi di lima region sejak 18 Juni hingga 15 Juli 2022 tersebut diapresiasi para perwakilan pemerintah daerah.
 
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dumuliahi Djami, menyatakan kegiatan yang dilakukan sangat tepat. Sebab, kebutuhan guru di daerah sangat besar. “Kami memberikan apresiasi terhadap Ditjen GTK Kemendikbudristek yang memberikan ruang bagi kita untuk berdiskusi terkait apa yang bisa dilakukan bersama guna pemenuhan guru di daerah masing-masing,” kata Dumuliahi, yang turut hadir pada rapat koordinasi di Surabaya, 12-15 Juli 2022,
 
Dumuliahi melanjutkan rekrutmen ASN PPPK tahun 2022 merupakan langkah yang sudah sangat luar biasa. Dirinya mendorong agar ke depan format rekrutmen seperti ini bisa dilakukan kembali. Bahkan tidak hanya untuk formasi pendidik/guru, tetapi juga pendidik lainnya yang menunjang proses pembelajaran.
 
Hal senada disampaikan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Trenggalek, Eko Yuniati. Menurut dia, rapat koordinasi dapat membantu pemerintah daerah yang selama ini bingung dalam menyelesaikan permasalahan tenaga honorer.
 
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami jadi terbantu sekali. Kami bisa berdiskusi dengan Kemendikbudristek, Kementerian Keuangan, BKN, KemenpanRB dan juga Kemendagri sehingga kebijakan ini tidak hanya menjadi kebijakan daerah, tetapi juga kebijakan nasional,” ucap Eko.
 
Untuk formasi guru yang diajukan, Eko menambahkan, guru honorer di daerahnya yang tercatat di dapodik sekitar 1.125 orang per Juli 2022. Jumlah tersebut termasuk guru yang sudah ikut seleksi tahun lalu dan lulus passing grade yang berjumlah 611 orang. Sedangkan pada 2021, guru honorer yang sudah diangkat menjadi guru ASN PPPK mencapai 546 orang.
 
“Kami akan upayakan 1.125 guru honorer ini bisa memenuhi semuanya. Kami sudah melakukan koordinasi dari awal dengan OPD terkait, berapa kemampuan anggaran kami untuk betul-betul bisa mengangkat guru honorer di daerah kami,” ujar Eko.
 
Serupa dengan pemerintah daerah lainnya, Sekretaris Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Surabaya,  Mamik Suparmi menyampaikan sinkronisasi data antara pemerintah pusat dengan daerah menjadi awalan yang bagus untuk rekrutmen guru ASN PPPK 2022.
 
Mamik berharap dengan mekanisme rekrutmen yang sudah diperbaharui dapat dijalankan pemerintah daerah sebaik-baiknya. “Sehingga harapan ada guru-guru profesional melalui PPPK ini bisa terwujud untuk perbaikan dunia pendidikan ke depan,” pungkas Mamik.
 
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Nunuk Suryani, menerangkan seleksi guru ASN PPPK 2022 akan memprioritaskan 193.954 peserta yang telah lulus passing grade pada seleksi tahun 2021 namun belum mendapatkan formasi. Jumlah tersebut akan digabungkan dengan kuota formasi guru yang diajukan daerah pada tahun ini.
 
“Kami berharap setelah rapat koordinasi ini bapak dan ibu panitia daerah menambah kuota formasi sehingga bisa memenuhi pekerjaan rumah kita pada tahun depan. Amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pemerintah Daerah memberikan kewenangan dan tanggung jawab terkait pemenuhan atau pengajuan formasi ASN PPPK kepada pemerintah daerah. Kami membantu agar hal tersebut terealisasi dengan baik dan sesuai sehingga guru-guru berkualitas yang memenuhi kuota tersebut,” ungkap Nunuk.
 
Terkait perubahan mekanisme, Nunuk menjelaskan proses seleksi akan melibatkan pemerintah daerah dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Perubahan ini muncul setelah Kemendikbudristek bersama Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB) melakukan evaluasi terhadap seleksi tahun lalu.
 
 “Kami mengharapkan bapak dan ibu pemerintah daerah punya perhatian yang besar seperti kita. Pemenuhan kebutuhan guru adalah pekerjaan bersama. Jadi kolaborasi yang baik antara kita akan menghasilkan guru-guru terbaik yang diangkat jadi guru ASN PPPK,” tutup Nunuk

Surakarta, Kemendikbudristek --- Pembelajaran berdiferensiasi merupakan metode pembelajaran yang mampu memfasilitasi karakter peserta didik yang beragam dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi sudah diterapkan oleh para guru penggerak di sekolah-sekolah penggerak, salah satunya di SMA Negeri 3 Surakarta yang merupakan Sekolah Penggerak di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu metode pembelajaran yang diterapkan untuk memfasilitasi peserta didik dengan gaya belajar kinestetik adalah dengan proyek Window Shopping.

Dalam Window Shopping, peserta didik belajar secara berkelompok di dalam kelompoknya masing-masing sekaligus belajar dengan kelompok lain. Jadi siswa tidak hanya duduk di kursi masing-masing, melainkan bebas berkeliling kelas untuk berdiskusi dengan kelompok lain mengenai materi pelajaran. Hal itu dilakukan untuk memfasilitasi gaya belajar siswa yang kinestetik. Calon guru penggerak di SMAN 3 Surakarta, Wardi, mengatakan, sebagai seorang pendidik, guru harus mampu melayani peserta didik yang memiliki beragam karakter, gaya belajar yang berbeda-beda, dan berbagai macam persiapan belajar.

“Jadi dalam Window Shopping, siswa diberi kesempatan untuk keliling, menanyakan kepada kelompok lain mengenai materi yang dikuasai masing-masing kelompok, sehingga semua materi yang disampaikan bisa terserap oleh anak-anak. Itulah salah satu metode sebagai fasilitasi gaya belajar anak-anak yang kinestetik,” ujar Wardi di SMAN 3 Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (12-7-2022).

Selain itu, salah satu implementasi pembelajaran yang diterapkan Wardi sebagai guru penggerak adalah proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Selain sebagai guru matematika, Wardi juga membimbing siswa dalam proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila. “Sebagai salah satu contoh proyeknya, tema yang kami ambil adalah tentang kearifan lokal. Kami minta anak-anak untuk mengenal tentang kearifan lokal di sekitar mereka. Setelah itu mereka mengaktualisasi apa yang akan mereka angkat dalam tema tersebut atau topik apa yang akan mereka angkat. Setelah itu mereka merencanakan apa yang akan mereka kerjakan.

“Sebagai salah satu pembimbig atau fasilitator proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila, saya mengarahkan anak-anak untuk mengembangkan karakter mereka yang sesuai dengan 6 karakter dalam Profil Pelajar Pancasila. Kemudian mereka mengadakan panen raya atau menyampaikan hasil proyek yang sudah dikerjakan mengenai kearifan lokal, lalu melaksanakan refleksi bersama. Mereka juga diarahkan untuk mampu melihat dampaknya serta membuat rencana tindak lanjut ke depan,” tutur Wardi.

Metode pembelajaran Window Shopping tersebut disukai para peserta didik di SMAN 3 Surakarta, salah satunya Athaya. Ia mengatakan, Window Shopping merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan. “Jadi ada presentasi menggunakan metode berkelompok. Lalu ada yang jaga stand, dan sisanya berkeliling ke kelompok lain untuk melihat proyek kelompok lain,” katanya. Ia juga menyukai metode pembelajaran di luar kelas yang diterapkan Wardi saat pelajaran matematika. “Kami juga keliling untuk belajar di luar kelas supaya tidak jenuh saat belajar matematika,” ujar Athaya.

Penanggung Jawab Program Sekolah Penggerak di SMAN 3 Surakarta, Eny Nursanti, mengatakan, di sekolah penggerak, peserta didik dipersilakan untuk mengeksplorasi dirinya sendiri sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. “Sehingga pada kelas 10 (di tahun pertama), peserta didik tidak perlu dijuruskan. Kemudian pada tahun kedua, peserta didik dipersilakan mengambil rumpun mapel yang mereka minati sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan mereka, serta disesuaikan dengan program studi yang akan mereka ambil di perguruan tinggi,” katanya.

Menurut Eny, hal itu menjadi salah satu keunggulan sekolah penggerak dibandingkan dengan sekolah lainnya. Selain itu, di sekolah penggerak peserta didik juga diberikan ruang untuk mengeksplorasi dirinya sendiri melalui pembelajaran proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Eny menuturkan, pembelajaran berbasis proyek tersebut bersifat menyenangkan, lebih eksploratif, mandiri, dan mengedepankan kerja sama. “Dalam mengerjakan proyek, peserta didik tidak perlu berada di dalam kelas. Mereka bisa berada di luar kelas untuk berkreasi dan menciptakan hasil karya atau aksi nyata sesuai dengan minat mereka masing-masing,” ujarnya.

Surakarta, Kemendikbudristek --- Program Pendidikan Guru Penggerak jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) memiliki modul pembelajaran dan materi yang cukup berbeda dibandingkan dengan materi pada Pendidikan Guru Penggerak jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada Pendidikan Guru Penggerak jenjang TK, ada dua materi yang menjadi sebuah catatan tersendiri bagi peserta program Guru Penggerak, yaitu Segitiga Restitusi dan Pembelajaran Sosial Emosional.

Segitiga restitusi merupakan tahapan tindakan yang dilakukan guru untuk membawa siswa menaati kesepakatan kelas yang telah ditetapkan dan mengakui secara sadar dan terbuka ketika melakukan kesalahan, serta merasakan kenyamanan ketika sudah berperilaku jujur. Pembelajaran Sosial Emosional merupakan pembelajaran kolaboratif yang melibatkan seluruh pihak terkait yang bertujuan untuk melatih kemampuan peserta didik agar dapat memahami, mengolah, dan mengekspresikan aspek sosial dan emosional pada diri peserta didik. Tujuannya adalah agar anak bisa sukses melakukan dalam melakukan berbagai macam aktivitas hidup seperti belajar, membangun hubungan, menyelesaikan masalah sehari-hari, dan beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan perubahan dan perkembangan.

Guru Penggerak angkatan 4 di TK Al Firdaus Surakarta, Iin Sulistianingsih, mengakui ada banyak manfaat yang diterimanya setelah mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak, salah satunya adalah ia kini mampu menerapkan segitiga restitusi. Iin sempat mengambil sampel salah satu murid di kelasnya yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.”Kemudian saya tanyakan dia, alasannya apa dan tujuannya apa? Dari program Guru Penggerak saya mendapatkan suatu materi bahwa setiap perbuatan anak itu pasti ada tujuannya. Kalau sebelumnya saya biasa men-judge (menghakimi), tapi setelah mengikuti Guru Penggerak, saya tahu semua ada alasannya kenapa anak melakukan suatu perbuatan,” katanya di TK Al Firdaus Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (13-7-2022).

Selanjutnya, Iin dan muridnya kemudian bersama-sama mencari solusi (problem solving). Dalam proses mencari solusi tersebut, guru juga mendengarkan aspirasi dan suara anak, sehingga keputusan tidak dibuat oleh satu pihak saja, yaitu hanya dari guru, melainkan dari kedua pihak , yakni guru dan murid. “Jadi suara anak didengar supaya antara anak dan guru bisa mewujudkan satu visi yang sama. Sehingga ketika pembelajaran, didapatkan kesepakatan mengenai sebuah peraturan yang berdasarkan usulan dari anak. Lalu kalau dia lupa, nanti kita ingatkan dengan komitmennya,” tutur Iin.

Dalam program Pendidikan Guru Penggerak, Iin juga terkesan dengan materi Pembelajaran Sosial Emosional. Setelah menjadi Guru Penggerak, Iin semakin sadar bahwa pengendalian sosial emosi pada anak usia PAUD adalah sesuatu yang bisa dilakukan. Iin juga mempelajari teknik STOP (Stop, Take a deep breath, Observe, and Proceed) , yaitu salah satu teknik yang dapat dilakukan guru TK dalam menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional untuk peserta didiknya.

“Memang tidak bisa seperti anak-anak SMA. Di PAUD atau TK masih dalam level tarik napas, lalu hembuskan dalam empat hitungan. Tapi setidaknya dengan penerapan teknik STOP itu mereka bisa mendapatkan kesadaran penuh sehingga mereka bisa siap untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya,” ujar Iin.

Iin mengakui, setelah mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak, ia merasakan manfaat yang luar biasa karena bisa mendapatkan banyak ilmu, masukan, bahkan pengalaman baru dari rekan-rekan guru yang lain. “Karena sebagai guru kita tidak boleh merasa pintar dan cepat puas . Saya belajar untuk open minded, belajar menerima bahwa ada beberapa hal yang sama yang dialami juga oleh rekan-rekan guru lain di sekolahnya. Berbagai praktik baik saya dapatkan dan semua proses saya nikmati,” tuturnya.

Motivasi Iin mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak didasarkan pada pengalaman mengajar di masa pandemi yang memaksa guru melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau  pembelajaran daring (online). Saat itu banyak guruTK yang  berkeluh kesah karena tidak bisa maksimal dalam memberikan pembelajaran. “Pada saat itu saya terbersit untuk sedikit berbagi praktik baik karena hanya dengan modal PowerPoint, sebenarnya kita bisa membuat pembelajaran lebih menarik dan atraktif. Namun hal itu belum didapatkan oleh teman-teman saya. Sehingga  ketika ada program Guru Penggerak, saya berinisiatif untuk mengikutinya agar bisa berbagi praktik baik dengan rekan-rekan guru lainnya,” ujar Iin. 

Klaten, Kemendikbudristek --- Kegiatan belajar mengajar tidak hanya bisa diselenggarakan di dalam kelas, melainkan juga di luar kelas. Kini guru semakin dituntut untuk bisa memberikan metode pembelajaran yang inovatif dan bermakna bagi peserta didik sehingga mereka tidak mengalami kejenuhan dalam belajar. Bagi guru penggerak, salah satu solusi untuk menghindari kejenuhan siswa tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang menyenangkan di luar kelas. Materi ajar tetap bisa disampaikan guru dengan mengubah suasana kelas dan menggunakan metode belajar yang menyenangkan.

Wijayanto, seorang guru penggerak dari SDIT Hidayah Ngawen, Klaten, Jawa Tengah, sudah menerapkan pembelajaran yang menyenangkan di luar kelas untuk peserta didiknya. Ia terinspirasi dari materi yang didapatkannya saat mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak. “Dalam pembelajaran, saya menerapkan apa yang sudah saya dapatkan di program Pendidikan Guru Penggerak, di mana pendidikan itu harus berpusat pada murid,” katanya.

Menurutnya, materi yang paling berkesan baginya selama mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak adalah materi mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan pemetaan aset di sekolah. Dengan berbekal dari kedua materi itu, kini Wijayanto menjadi lebih siap dan percaya diri untuk menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan.

“Dengan pembelajaran berdiferensiasi, kita bisa mengoptimalkan potensi peserta didik yang dimiliki. Kemudian dengan aset yang dimiliki sekolah, kita juga bisa mengambangkan pembelajaran yang lebih inovatif dan berdampak pada murid,” ujarnya di SDIT Hidayah Ngawen, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (13-7-2022).

Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Wijayanto mengajak siswanya mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan metode yang menyenangkan. Setelah materi diajarkan di dalam kelas, selanjutnya ia mengajak siswa belajar di luar kelas dan membuat permainan dengan mengaplikasikan materi yang diajarkannya, misalnya tentang persamaan kata (sinonim) dan lawan kata (antonim).
“Setelah murid mengetahui pengertian dan contoh-contohnya, lalu agar mereka lebih paham tentang beberapa contoh kata sinonim dan antonim, juga agar tidak text book, hanya menghafal, dan supaya tidak jenuh, maka kita kemas dengan bermain,” tutur Wijayanto.

Ia kemudian mengajak siswa kelas 6 ke lapangan sekolah untuk melanjutkan pembelajaran. Di lapangan, Wijayanto sudah menyiapkan dua kelompok kartu, yaitu satu kelompok kartu berwarna kuning dan satu kelompok kartu lagi berwarna merah. Pada setiap kartu berwarna kuning, tertulis kata-kata yang bisa dipasangkan sebagai sinonim. Kemudian pada setiap kartu berwarna merah tercantum kata-kata yang bisa dipasangkan sebagai antonim.

Wijayanto lalu membagi siswanya menjadi dua kelompok, yakni kartu kuning dan kartu merah. Kedua kelompok itu kemudian berlomba untuk bersama-sama menyusun kata-kata sinonim dan antonim. Setelah permainan dilakukan secara berkelompok, siswa kemudian diminta untuk memasangkan kartu secara mandiri atau sendiri-sendiri untuk lebih menguatkan pemahaman siswa dan melihat apakah ada siswa yang belum mengerti materinya.

“Jadi itu pelajaran di luar kelas sambil bermain. Anak berlari ke depan mengambil satu kartu dan mengurutkan. Jadi kita juga bisa mengecek mana siswa yang sudah paham atau belum. Dengan demikian anak-anak akan lebih mudah paham dan gembira, daripada hanya menghafalkan. Jika pembelajaran dikemas dengan bermain akan lebih berkesan,” ujar Wijayanto.

Metode pembelajaran yang menyenangkan di luar kelas tersebut disukai oleh siswa-siswanya, salah satunya Faiq Abyan Hilmi. Menurut Faiq, pembelajaran tersebut lebih seru dan menyenangkan. “Lebih enjoy dan lebih seru. Tadi bermain membedakan kata antonim dan sinonim. Jadi kita lihat kartunya, terus mengurutkan kartu berdasarkan lawan kata dan persamaan kata,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh kawannya, Luthfiana Janitra Mardiyana. Luthfiana mengatakan, pembelajaran dengan permainan di luar kelas lebih menyenangkan. “Pak Wijayanto tidak pernah marah jadi saya mudah memahami materinya. Saya juga lebih suka belajar di luar kelas. Soalnya lebih menyenangkan di luar kelas daripada di dalam kelas,” tuturnya.

Sebagai guru penggerak, Wijayanto menuturkan, ia memosisikan siswa sebagai subjek belajar sehingga siswa bisa lebih aktif dalam pembelajaran. Ia mengatakan, sebagai seorang pendidik, guru hanya menuntun dan mengarahkan siswa, agar mereka bisa mengembangkan potensinya. “Dalam program Pendidikan Guru Penggerak juga diharapkan agar pembelajaran di tingkat SD bisa lebih menyenangkan. Makanya saya kemas pembelajaran tidak hanya sekadar belajar, tetapi juga sambil bermain. Saya yakin anak-anak lebih gembira dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan,” katanya.

Pontianak, 17 Juli 2022 - BPMP Kalimantan Barat - Peningkatan kualitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan membangun kualitas pembelajaran yang sangat ditentukan oleh peran serta  seorang guru (tenaga pendidik). Walaupun guru bukan satu- satunya unsur yang berpengaruh dalam  dunia pendidikan, namun guru memegang peranan penting serta sebagai ujung tombak berhasil atau tidaknya suatu pendidikan. Dalam hal ini sangat perlu peran kepala sekolah dan seorang pengawas sekolah yang memiliki kemampuan untuk melakukan supervisi, sehingga bisa tercipta seorang guru yang berkualtas dalam bidangnya. Peran kepala   sekolah dan pengawas ini sangat erat kaitannya dalam keberhasilan terselenggaranya pendidikan sekolah yang bermutu dan berkualitas.

Pelaksanaan supervisi di bidang pendidikan merupakan salah satu upaya memastikan bahwa pelaksanaan proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Di tingkat satuan pendidikan, pengawas sekolah melakukan supervisi terhadap kepala sekolah binaan dan guru, dan kepala sekolah melakukan supervisi terhadap guru. Selama ini proses supervisi yang dilakukan oleh pengawas sekolah maupun kepala sekolah belum terdokumentasikan secara baik. Hal ini disebabkan proses dokumentasi masih dilakukan secara manual dan belum terintegrasi dalam satu sistem. Sehingga pihak pemangku kepentingan diantaranya dinas penddikan tidak dapat memantau pelaksanaan supervisi di tingkat satuan pendidikan.

BPMP Provinsi Kalimantan Barat akan membangun satu sistem yang dapat membantu pengawas sekolah dan kepala sekolah melakukan supervisi. Hasil supervisi nantinya dapat dipantau baik oleh pengawas sekolah, kepala sekolah, dinas maupun dari kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam hal ini BPMP Provinsi Kalimantan Barat.

Tahap awal dalam membangun sistem aplikasi supervisi adalah dengan membuat kegiatan penyusunan instrumen supervisi mutu pendidikan. Dalam kegiatan ini, BPMP Provinsi Kalimantan Barat mengundang perwakilan pengawas sekiolah, dan kepala sekolah serta melibatkan staf fungsional di BPMP Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 15 s.d. 17 Juli 2022 dan bertempat di BPMP Provinsi Kalimantan Barat.  Pada kegiatan ini peserta menyusun instrumen, berdiksusi dan memaparkan secara langsung hasil kerja kelompok. Instrumen supervisi mutu pendidikan ini nantinya akan dituangkan dalam bentuk aplikasi yang dapat dimanfaatkan bagi berbagai pihak.

Bapak Iwan Kurniawan, S.Si, M.Si, selaku Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Barat dalam sambutannya mengungkapkan bahwa hasil dari supervisi mutu pendidikan ini nantinya akan bermanfaat bagi pengawas sekolah dan kepala sekolah dalam melakukan perbaikan proses pembelajaran di sekolah. Selain itu pemangku kepentingan yaitu dari dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi dan kabupaten/kota dapat mengevaluasi kinerja pengawas dan satuan pendidikan, sehingga dapat melakukan intevensi di bagian yang dianggap masih perlu pengembangan lebih lanjut. Dengan adanya hasil supervisi ini nantinya dapat membangun sinergisitas antara pengawas, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kinerja satuan pendidikan sehingga proses pembelajaran di tingkat satuan pendidikan dapat lebih baik yang pada akhirnya mampu melahirkan lulusan yang berkualitas (DS).