Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (73)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Arsip Berita

Jakarta, 9 Juni 2021 --- Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim meluruskan mispersepsi yang terjadi dalam beberapa pemberitaan terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Mendikbudristek sekali lagi menyatakan bahwa PTM terbatas tidak sama seperti sekolah tatap muka biasa. Hal tersebut diutarakannya di kantor Kemendikbudristek, Jakarta, Rabu (9/6).

“Apa yang Bapak Presiden sampaikan pada Senin (7/6) lalu benar bahwa pembelajaran yang kita upayakan bersama adalah tatap muka terbatas. Sekali lagi, terbatas,” tekan Nadiem.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memberikan contoh praktik baik dalam melaksanakan PTM terbatas, dimana satuan pendidikan dapat mengatur satu kelas hanya diisi 25 persen murid, kegiatan belajar mengajar hanya dua jam dan satu minggu hanya dua kali pertemuan.

Menteri Nadiem menyampaikan, “Contohnya seperti yg disampaikan oleh Bapak Presiden. Sekolah yang sudah atau dalam proses melakukan PTM terbatas dengan durasi belajar dan jumlah murid berbeda tetap diperbolehkan selama mengikuti protokol kesehatan dan di bawah batas maksimal yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19”.

Lebih lanjut, Mendikbudristek menegaskan, “Tidak ada perubahan dalam SKB. SKB tersebut menuangkan aturan maksimal. Sekolah bisa menerapkan PTM terbatas dengan sedikit demi sedikit”.

Diketahui bahwa sekitar 30% satuan pendidikan telah melakukan PTM terbatas sesuai situasi dan kondisinya masing-masing. Sebagian baru memulai PTM terbatas beberapa bulan terakhir, ada pula yang sudah melakukan PTM terbatas sejak tahun lalu.

“Seperti halnya para guru, orang tua, dan murid yang saya dengar langsung keluhannya dalam melakukan pembelajaran jarak jauh, Bapak Presiden juga menyampaikan kepeduliannya,” sebut Nadiem.

Presiden menyampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh pada kenyataannya menyulitkan anak, orang tua, dan guru. “Beliau menyampaikan, kita harus memiliki keberanian untuk mendorong PTM terbatas yang tentu saja disertai penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat,” tutup Nadiem.

Sebelumnya, Kemendikbudristek dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) di Masa Pandemi COVID-19 yang dapat membantu kelancaran penyelenggaraan PTM Terbatas. Panduan dapat diunduh di laman bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id atau spab.kemdikbud.go.id.


Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Jakarta, 26 Mei 2021 --- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menggelar siniar #PojokDikbud, dengan mengusung tema “Membangun Indonesia dengan Integritas”. Siniar kali ini menghadirkan Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendikbudristek, Chatarina Muliana Girsang, sebagai narasumber. Dalam siniar ini, Chatarina banyak membahas tentang cara mempertahankan integritas dalam pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19.

Siniar yang mulai ditayangkan di kanal YouTube Kemendikbud.RI pada Sabtu, (23/5), ini berbeda dari siniar #PojokDikbud sebelumnya. Kali ini siniar dipandu oleh Audrey dan Nayla, siswi dari SMA Negeri 3 Jakarta yang mewakili OSIS dan klub jurnalistik.

Dalam kesempatan tersebut, Chatarina menyampaikan definisi integritas setelah mendapat pertanyaan dari pemandu acara. Chatarina menjawab, integritas itu mengatakan apa yang dilakukan, dan melakukan apa yang dikatakan. “Jadi, kita harus jujur dan konsisten. Bahkan, kita harus lebih baik dari apa yang kita katakan tentang kita,” tuturnya melanjutkan penjelasan tentang definisi integritas.

Chatarina menyorot fenomena anak remaja zaman sekarang yang lebih bisa terbuka pada teman-teman, dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. “Mungkin karena anak takut dimarahi orang tua bila jujur. Padahal, bila orang tua memarahi anaknya menurutnya karena rasa sayang, bukan benci,” terangnya.

Chatarina juga menekankan pentingnya beriman pada Tuhan untuk menjaga kita selalu berbuat jujur. Hal paling sederhana ditunjukkan dengan takutnya kita melanggar peraturan, karena pasti Tuhan mengetahuinya. “Kita jangan bangga bila kita bolos namun tidak ketahuan. Atau melanggar peraturan lalu lintas dan tidak ditangkap polisi. Padahal kita harus tahu melanggar peraturan itu membahayakan kita. Kita harus membangun budaya malu untuk melanggar peraturan,” ujarnya.

Selanjutnya, Irjen perempuan pertama dalam sejarah Kemendikbudristek ini juga membahas tentang cara untuk mempertahankan integritas dalam PJJ. Ia mengatakan, penting bagi orang tua menanamkan pada anak bahwa nilai itu bukanlah yang terpenting di sekolah. Justru cara mencapai nilai tersebut adalah yang harus dicermati. Kejujuran, kata Chatarina, merupakan kunci dalam mempertahankan integritas tersebut. Karena ketika anak memperjuangkan nilai dengan cara yang tidak jujur akan membebani hati nurani mereka.

Masih dalam tayangan siniar tersebut, Chatarina juga bercerita tentang pesan yang selalu Ia tanamkan pada anaknya, bahwa nilai bukanlah yang terpenting. “Tidak penting nilai kamu, tapi bagaimana kamu mendapatkan nilai. Ketika kamu jatuh, lalu kamu bangkit kembali untuk memperjuangkan, itulah yang paling penting, itulah nilai hidup sebenarnya,” lanjutnya menjelaskan pesan pada anaknya.

Dalam pekerjaan, Chatarina juga mengatakan integritas sangat penting, karena bila tidak jujur, kita tidak mungkin bekerja sama. “Bagi saya, itu harus menjadi prinsip hidup semua insan. Mengapa, karena bila kita tidak memiliki integritas, kita tidak mungkin bekerja sama, karena pekerjaan kita akan selalu bersinergi. Bila kita tidak bisa bekerja sama, kita tidak bisa berinovasi,” jawabnya.

Terakhir, Chatarina Muliana menjelaskan mengapa masyarakat butuh integritas. Ia berpendapat bahwa masyarakat berkarakter baik yang dapat membangun negara ini, karena cinta masyarakat terhadap negaranya dapat dilihat dari rasa kepemilikannya. Dalam memajukan Indonesia, harus adanya kerja sama, berkolaborasi. Peran integritas dalam hal ini yaitu membangun komitmen masyarakat untuk satu tujuan.

“Karena kita nggak mungkin memajukan negara ini sendiri. Kemendikbudristek harus bergandengan tangan dengan pemerintah daerah, dengan masyarakat, karena Indonesia sangat luas. Jadi, penting sekali untuk membangun komitmen bersama, lalu membangun kerja sama. Tanpa gotong royong, tidak mungkin kita sama-sama membangun negara ini. Seperti pepatah, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul,” pungkas Chatarina. (RS/MKB)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#PojokDikbud
#PameranHardiknas2021
#SerentakBergerak
#MerdekaBelajar
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor : 211/sipres/A6/V/2021

Jakarta, Kemendikbud --- Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Arief Rachman menekankan pentingnya pendidikan yang berbasis kebudayaan untuk memperkuat identitas bangsa.  Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa unsur untuk mengembangkan pendidikan berbasis kebudayaan.

“Takwa, fleksibel, keterbukaan, ketegasan, berencana, mandiri, toleransi, disiplin, berani ambil resiko, sportif, setia kawan, integritas, orientasi masa depan,” ungkap Arief dalam pidatonya secara daring di Jakarta (5/5). Ia mengapresiasi penyelenggaraan webinar yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang bertema “Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar”.  

Arief menuturkan bahwa terdapat lima hal yang membuat pendidikan menjadi sukses di antaranya adalah ketakwaan, kepribadian matang, ilmu mutakhir yang menghasilkan berprestasi, rasa kebangsaan, dan berwawasan global.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbudristek, Bahasa, E. Aminduin Aziz menjelaskan perbedaan pendidikan bahasa di setiap daerah yakni perbedaan taksonomi yang timbul dari keragaman budaya.

Aminduin Aziz menerangkan bahwa terdapat Laboratorum Kebinekaan yang dikembangkan Badan Bahasa untuk merumuskan berbagai materi bahan ajar. Disamping itu, Aziz menyinggung kompetensi yang harus dimiliki seorang tenaga pendidik. Kompetensi itu adalah pemahaman monocultural dan multicultural agar ketika para pendidik menjalankan proses pembelajaran, siswa dengan mudah memahami konteks pembelajaran. Sebab, guru telah mampu mengidentifikasi aspek monokultural dan multikultural dari kondisi kelas yang ia hadapi.

“Apakah siswa-siswa kita itu berasal dari budaya yang sama atau mereka berasal dari budaya yang berbeda, apakah monokultural atau multikultural, nah ini sangat penting,” jelasnya.

Pembicara lain yaitu Abdullah Alhadza, seorang pengamat pendidikan. Ia menjelaskan betapa pentingnya pendidikan yang berangkat dari filosofi budaya. Sebab, pendidikan yang tidak didasarkan oleh kebudayaan dapat menggradasi sebuah bangsa dan menjadikan bangsa tersebut dalam bayang-bayang bangsa lain.

Selanjutnya, Abdullah membagikan pengalaman hidupnya, dia bercerita bagaimana cita-cita anak-anak muda Fhilipina. Dulu, mereka adalah negara yang pernah dijajah oleh Amerika dan mereka begitu mendambakan dapat menjadi warga negara Amerika.

Lain lagi dengan pengalaman Abdullah saat berteman dengan pemuda asal Hongkong. Dari situ ia paham bahwa para generasi muda di sana lebih bangga dianggap sebagai British Collony dibandingkan sebagai warga Hongkong.

Abdullah menjelaskan bahwa di abad ke-21, terjadi berbagai dinamika perubahan. Di mana kita akan kesulitan untuk menjaga nilai-nilai warisan kita. “Kita diingatkan bahwa kita tidak mungkin bertahan dengan apa yang kita miliki apa yang kita warisi meski kita bisa merawatnya. Rawat nilai-nilai lama yang baik, kemudiaan jangan kita menutup diri untuk menerima nilai-nilai baru yang lebih baik,” pesannya.*

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim menekankan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam peningkatan kualitas pelajar yang berfalsafah Pancasila. Hal tersebut ia sampaikan dalam upacara perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diselenggarakan di lapangan Kantor Kemendikbudristek, yang berlangsung secara daring dan luring dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, hari Minggu (2/5) lalu.

”Saya ingin anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang menggegam teguh falsafah Pancasila, pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan pelajar yang mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri. Karenanya, kementerian ini secara konsisten terus melakukan transformasi pendidikan melalui berbagai terobosan Merdeka Belajar,” tutur Nadiem.

Mendikburistek juga menjelaskan bahwa terdapat empat upaya perbaikan yang terus dikerjakan Kemendikbudristek bersama dengan berbagai elemen masyarakat. Pertama adalah perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. Kedua; perbaikan kebijakan, prosedur, pendanaan, serta pemberian otonomi yang lebih bagi satuan pendidikan. Ketiga; perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Serta keempat; perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.

Pada kesempatan ini, Nadiem menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak, terkait dengan terobosan-terobosan Merdeka Belajar yang ia nilai telah menyasar kepada seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pendidik dan pelajar dari PAUD sampai pendidikan tinggi, orang tua, para wakil rakyat, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, hingga dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
 
“Transformasi yang bermakna ini dilakukan dengan tujuan mengubah segala sesuatu yang membuat bangsa ini berjalan di tempat berubah menjadi lompatan-lompatan kemajuan,” ujarnya.

Dikatakan Medikbudristek, masa pandemi merupakan ladang optimis yang menunggu untuk dipanen. “Krisis merupakan kesempatan kita untuk menuai kemajuan, dan kita perlu memahami bahwa pandemi bukan hanya satu-satunya tantangan yang tengah kita hadapi,” pungkas Nadiem.

Salah satu peserta upacara yang hadir secara luring yaitu Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Danang Hidayatullah. Ia menyampaikan bahwa di masa sekarang ini, generasi bangsa membutuhkan tiga kemampuan, yaitu adaptasi, inovasi, dan budaya. “Merdeka Belajar mencakup tiga hal ini yang di dalamnya mengusung kemerdekaan berfikir, berkreasi, dan berinovasi, sesuai dengan tuntutan perubahan,” tutur Danang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa beberapa program IGI yang dicanangkan dan telah berjalan mendapat tanggapan positif oleh para tenaga pendidik. Oleh karena itu, pihaknya bertekad untuk terus memotivasi, menginspirasi, dan akan menjadi role model untuk para pendidik. Sehingga mereka benar-benar dapat melaksanakan kemerdekaan belajar secara penuh.

“Pertama, guru itu bukan sekedar mengajar, dia juga mendidik. Yang namanya kemerdekaan berpikir itu bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di keseharian. Nah, ini tuntutan guru sebagai seorang pendidik sangat berat. Jadi, kita semua turun tangan (merealisasikan prinsip Merdeka Belajar),” jelasnya.

Ketua Umum IGI periode 2021-2026 ini menilai bahwa program-program Kemendikbudristek sejauh ini sangat sistematis dan produktif. Ia mengatakan, para guru antusias menyambut berbagai inisiasi yang dilakukan kementerian. Mulai dari guru penggerak, sekolah penggerak, hingga organisasi penggerak.

Namun demikian, untuk mengakselerasi pendidikan yang inklusif, ia meminta pemerintah untuk gencar meningkatkan fasilitas pendidikan di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T). “Memang mereka banyak keterbatasan baik dari segi fasilitas internet, kuota. Harapannya ini bisa di support lagi oleh Kemendikbudristek. Selain itu, semoga program Guru Penggerak ini benar-benar bisa menyentuh teman-teman yang ada di daerah 3T, daerah yang katakanlah di luar dari daerah perkotaan,” ucapnya seraya mengutip motto IGI yaitu sharing and growing together.

“Hari ini hari pendidikan nasional juga motto-nya sama, bergerak serentak, niatnya teman-teman semua IGI di seluruh Indonesia mari kita bergerak menggerakkan untuk perubahan untuk Indonesia. Building and serving our nation. Bagaimana kita bisa membangun dan melayani bangsa kita dengan baik,” seru Danang.

Hal senada disampaikan Kepala Sekolah SMA 18, Tuti Sukarni yang menerapkan konsep Merdeka Belajar sejalan dengan aturan yang disusun Kemendikbudristek dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. “Hal ini dapat terwujud berkat kerja sama dinas pendidikan guru, siswa dan orang tua yang bersinergi mendukung pembelajaran agar berjalan lancar di masa pandemi,” urainya.

“Untuk rekan-rekan guru sejawat, jangan pernah bosan untuk senantiasa menggali berbagai ilmu-ilmu baru pendekatan-pendekatan baru, untuk bagaimana bisa menyukseskan pembelajaran jarak jauh. Banyak tentunya teknik-teknik yang bisa diterapkan dengan kemajuan teknologi, hadapi ini, kekinian saat ini dan terus belajar,” imbau Tuti yang juga menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt.) Kepala SMA 80 Jakarta Utara dan Ketua Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS).

Tak ketinggalan, Raden Widyatama, siswa Anggota Orkestra SMKN 2 Bantul Jogjakarta yang hadir sebagai pengisi acara turut menyampaikan makna Hardiknas bagi pegiat seni seperti dirinya. Di tengah pandemi Covid-19 yang juga berpengaruh pada dunia kesenian, ia berharap pemerintah dapat memberikan “panggung” kreasi agar para pegiat seni budaya dapat terus berkarya.

“Saya merasa seharusnya para musisi diberi porsi untuk tampil lebih, karena para musisi bisa hidup kalau musik seperti ini. Jadi, itu mungkin yang perlu diperhatikan lagi,” harap Raden Widyatama yang mengaku bangga berkesempatan tampil secara langsung di hadapan Mendikburistek pada puncak perayaan Hardiknas.

“Buat para musisi, tetap semangat bermusik dalam kondisi pandemi ini pokoknya tetap semangat dan pantang menyerah,” tutupnya.*

Jakarta, 8 Mei 2021 --- Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Puspeka Kemendikbudristek) menggelar webinar bertajuk “Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi” pada Sabtu (8/5). Webinar yang diselenggarakan secara virtual kali ini menghadirkan narasumber menarik yaitu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Habib Husein Jafar Al-Hadar (tokoh agama) dan Abdul Arsyad (Komika). Acara ini dipandu oleh Anya Dwinov dan ditutup dengan penampilan spesial dari Raef yang merupakan penyanyi religi internasional.
 
Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memberikan penyadaran tentang sikap-sikap toleran yang biasa terjadi di lingkup satuan pendidikan sekaligus mengedukasi pentingnya sikap menjaga hubungan baik antar-manusia saat berpuasa. Toleransi merupakan suatu nilai karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.
 
Kepala Pusat Penguatan Karakter Hendarman yang hadir secara langsung mengapresiasi jalannya acara hari ini. Acara hari ini merupakan bagian dari serial Ramadan Puspeka 1442 Hijriyah. Tema kali ini ‘Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi’, ” ujar Hendarman secara langsung di studio.
 
Antusiasme Sahabat Karakter, sapaan Puspeka pada warga pendidikan seluruh Indonesia, sangat tinggi dengan jumlah pendaftar lewat membludak hingga delapan ribu orang. Sebelumnya, acara dilangsungkan secara luring terbatas dengan protokol kesehatan dan telah dilaksanakan swab antigen bagi seluruh pengisi dan panitia acara untuk dapat masuk ke studio.
 
Menteri Nadiem pada sambutannya mengatakan bahwa di samping menjalankan ibadah puasa pada Ramadan ini, masih ada hal lain yang harus dilakukan. “Kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terlepas dari latar belakang agama dan golongan,” tutur Mendikbudristek secara virtual.
 
Ibadah puasa, dikatakan Mendikbudristek, juga merupakan praktik beragama yang dijalankan banyak umat. “Teman-teman kita beragama Hindu juga berpuasa wajib di hari besar. Jelang Paskah, teman-teman Kristen juga beribadah puasa. Oleh karena itu, toleransi adalah nilai karakter yang harus dijalankan sebagai bagian hidup kebangsaan,” kata Mendikbudristek.
 
“Saya yakin kita semua ingin menjalankan ibadah dengan tenang dan belajar tanpa paksaan, serta menjalin pertemanan dengan siapa saja. Tanamkan dalam benak kita rasa cinta terhadap perbedaan, lalu tularkan pada sekitar kita, agar semua orang punya hak yang sama dalam beragama, belajar, dan berkarya. Mari sama-sama kita wujudkan Indonesia yang bebas dari intoleransi yang akan mengakslerasi kemajuan bangsa kita,” imbau Mendikbudristek.
 
Senada dengan itu, tokoh agama yang akrab dikenal generasi muda Habib Husein Jafar Al-Hadar mengungkapkan bahwa puasa mengajarkan kemanusiaan dan toleransi. “Puasa mengajarkan kita untuk lapar. Agar meskipun kita kuat beli makanan, kita rasakan sebulan ini beratnya jadi orang lapar. Kita belajar untuk tidak tega membiarkan orang lapar, selama kita masih bisa membantu,” ujar Habib Husein.
 
Habib Husein juga menekankan pentingnya penghayatan iman dalam berpuasa. “Kita belajar tidak mudah marah pada orang lain. Ciri orang sukses puasa adalah bertakwa. Ciri orang bertakwa, kata Allah dalam surat Al-Imran, adalah tidak mudah marah, memaafkan orang lain yang membuat dia marah, dan bukan hanya itu saja, tapi malah memberi sedekah kepada orang yang membuat dia marah,” tutur Habib Husein.
 
Selain itu, Habib Husein juga menyatakan bahwa di Surat Al-Baqarah telah dijelaskan bahwa puasa diwajibkan seperti kaum-kaum sebelum kamu. “Tadi Mas Menteri sudah menjelaskan, agama apapun ada puasanya. Bahkan puasa, sejak zaman Nabi Nuh sudah ada, walau berbeda bentuk, cara, dan waktunya. Tapi dari sini kita belajar, kita ini ada persamaannya walau berbeda agama. Ayo kita fokus pada persamaannya, jangan mengumbar perbedaannya, agar persaudaraan makin erat. Kita cari titik samanya, jangan cari titik bedanya,” imbau Habib Husein.
 
“Kita berbeda dalam cara dan waktu puasanya. Itu kebenarannya. Tapi, dalam kebaikannya kita sama. Sama-sama diajarkan berpuasa untuk menumbuhkan empati sosial kepada orang yang membutuhkan. Kata Allah: ‘Fastabiqul Khairat’. Berlomba-lombalah dalam kebaikan, bukan dalam kebenaran. Tidak usah merasa saya lebih benar daripada kamu, lalu berdebat. Namun, taruhlah kebenaran di hati. Yang penting output-nya yanng ditampilkan, yaitu kebaikan pada sesama,” jelas Habib Husein.
 
Komika Abdur Rasyad yang tampil menghibur audiens pada sore ini juga mengaku bahwa dirinya memiliki pengalaman sedih ketika merantau ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. “Saya diejek karena punya logat tertentu,” ucap pemuda asal Nusa Tenggara Timur ini. Namun, ia pun menyadari, dirinya pernah menjadi pelaku perundungan ketika dulu ada siswa suku lain yang tinggal di daerahnya. “Dulu, ketika mengalami dihina, rasanya ingin bertengkar. Tapi, saya belajar untuk berdamai dengan itu semua,” jelas Abdur. Ia menyalurkan pengalamannya itu menjadi bahan tulisan yang kemudian ia kembangkan menjadi prestasi sebagai seorang komedian panggung (stand up comedy). Abdur pun mengimbau agar generasi muda lebih saling merangkul dan menghargai perbedaan yang ada.
 
Habib Husein pun juga pernah mengalami perundungan. “Saya keturunan Arab dan pernah mengalami jadi ras minoritas di sekolah. Dulu juga saya sedih dan marah. Tetapi ini mengajarkan saya berempati dan mengubah perilaku jadi lebih saling mengerti dan menerima perbedaan,” terang dia.
 
Sebagai contoh, beberapa bentuk intoleransi di dunia pendidikan adalah: tidak memberi sarana prasarana bagi guru, siswa, mahasiswa, dan dosen karena perbedaan SARA dan kepercayaan, melarang ibadah agama tertentu di lingkungan sekolah atau kampus, dan memaksa pemakaian seragam atau atribut khas agama atau suku dan kepercayaan tertentu. Selain itu, menolak pendaftaran pendidik dan peserta didik karena alasan perbedaan SARA juga merupakan bentuk intoleransi.
 
Indonesia, Negeri Ekspresi Agama yang Mengejutkan Mancanegara

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyatakan keprihatinannya akan intoleransi yang terjadi di sekolah-sekolah. “Kita sering lupa akan nikmat kita tinggal di Indonesia,” ujar Yenny yang menjelaskan bahwa hal serupa tak mudah ditemui di sejumlah negara. “Pekerjaan saya mengharuskan saya bepergian ke banyak negara. Ada suatu negara yang bahkan umat agama apapun, tidak boleh mengenakan atribut keagamaannya di ruang-ruang publik seperti rumah sakit dan sekolah,” jelas Yenny. Ia mengakui, di berbagai negara memang banyak represi terhadap ragam ekspresi keagamaan yang ditemui oleh berbagai pemeluk agama apapun.
 
“Sementara di sini, pemerintah biasa membangunkan rumah ibadah untuk masyarakat. Di luar negeri, orang melihat keadaan negara kita itu kaget dan bingung,” tambah Yenny.
 
Menurut Yenny, ini karena Indonesia punya ikatan suci Pancasila. “Pancasila ini menyatukan seluruh warga NKRI, di mana semua orang dapat mengekspresikan kebebasan beragamanya. Janganlah kita rusak dengan praktik-praktik intoleransi, justru harus kita kuatkan agar semua orang makin menghargai Pancasila,” imbau Yenny.
 
Peran Pendidik Memupuk Toleransi pada Generasi Muda

Menyikapi pertanyaan salah satu pendidik, yaitu Guru SD Negeri 5 Duhiadaa, Gorontalo, bernama Thahira Wahyuni tentang upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk mengurangi intoleransi di kalangan pelajar di era digital, Yenny mengakui bahwa para guru punya tugas berat karena bukan digital native, artinya tidak lahir di zaman teknologi 4.0 ini.
 
“Saya pun gagap, sementara anak-anak kita sejak lahir sudah pegang gadget,” ucap Yenny. “Namun yang paling utama adalah kita harus menguatkan nilai, baik di sekolah maupun bekerjasama dengan orangtua di rumah agar anak-anak tumbuh dalam sikap menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik,” jelas Yenny.
 
Menurut dia, kalau nilai yang tertanam pada anak-anak sudah kuat, maka anak dapat diajari menghormati orang lain yang berbeda pendapat dan keyakinan. “Perbedaan pendapat, keyakinan politik, keyakinan agama, semuanya adalah fitrah manusia. Kita dilahirkan memang berbeda-beda. Perbedaan itu adalah rahmat yang harus disyukuri sebagai nikmat. Namun, peran pendidik memang amat besar. Saya tahu tugas Bapak dan Ibu berat sekali. Sebagai orangtua, kami hanya bisa mendoakan para pendidik diberikan kekuatan oleh Allah agar dapat mendidik anak-anak kita supaya ber-akhlakul karimah,” ujar Yenny.
 
Kita sebetulnya sudah sering bicara tentang toleransi dan saling rukun menghargai. Tapi kenyataannya, kasus-kasus intoleransi terus terjadi di sekitar. Ini karena belum ada kebijakan yang langsung mengarah kepada pencegahan atau penanganan kasus intoleransi. Dan ironisnya, cukup banyak praktik intoleransi di sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi tempat belajar cara menghargai perbedaan lewat pertemanan dan pelajaran di kelas. Maka, kami bertekad menghapuskan seluruh tiga dosa besar dunia pendidikan, yaitu: intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan,” jelas Mendikbudristek.
 
Presenter Anya Dwinov pun mengakui, ketika sekolah dulu, ia pernah diajarkan mengucapkan selamat hari raya di luar agamanya. “Padahal, saya berasal dari keluarga multiagama. Bagaimana menyikapi hal ini? Kita punya energi di Indonesia dengan berbagai latar belakang agama yang dipeluk. Kita punya kekuatan yang luar biasa kalau kita bersatu,” ucap Anya.
 
Yenny mengatakan, “Allah menciptakan manusia dengan jenis kelamin, suku, dan bagsa berbeda, bukan untuk saling memusuhi dan megucilkan, tapi untuk saling mengenal satu sama lainnya. Kita diciptakan menjadi instrumen Rahmatan Lil’Alamin di dunia ini.”
 
Senada dengan itu, Habib Husein menguraikan, “Berbuat baik pada semua orang adalah salah satu prinsip dalam islam, Rahmatan Lil’Alamin. Rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya sesama Muslim, tapi semua manusia yang beda agama dan juga semua makhluk hidup. Kita diajarkan konsep ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia, karena siapa yang bukan saudara dalam agama, adalah saudara dalam kemanusiaan. Dan juga ukhuwah makhlukiyah, yaitu persaudaraan sesama makhluk Allah. Ini adalah pahala besar di sisi Allah SWT. Kita harus berpuasa, membangun kemanusiaan, dan saling bertoleransi,” ucap Habib Husein.  
 
Webinar juga dimeriahkan penampilan spesial Raef, seorang musisi, penyanyi, dan penulis asal Maryland, Amerika Serikat. “Thank you Pusat Penguatan Karakter for inviting me to this beautiful program. We’re oceans apart, but alhamdulillah for the chance to spend sometime with you here. I really miss Indonesia,” ujar Raef yang dapat berkata-kata dalam Bahasa Indonesia. Ia mengakui dirinya beruntung sudah pernah berkunjung ke 140 kota dan kabupaten di Indonesia. “InsyaAllah, after this pandemic ends, I will visit Indonesia again,” harap Raef. Ia pun menunjukkan peta Negara Bagian Maryland yang merupakan tanah airnya di Amerika Serikat. Namun, uniknya, di atas peta Maryland ia memajang peta Indonesia. “Ini untuk mengingatkan saya akan Indonesia, rumah saya yang jauh dari rumah,” jelas Raef.
 
Raef pun menyanyikan lagu yang terinspirasi dari Sholawat Badriyah, suatu lagu religi Islam yang amat populer di Indonesia. “Seluruh dunia tahu lagu ini ditulis oleh orang-orang Indonesia. Ini tentang Baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan umat manusia untuk menghormati sesama manusia,” ujar Raef. “Ini Sholawat Badriyah versi Amerika, yang saya sebut Southern Sholawat,” kata Raef yang kemudian mempersembahkan penampilannya secara virtual bagi para audiens dari kediamannya.
 
Kapuspeka Hendarman pun mengapresiasi para pengisi acara. “Kita belajar banyak dari Habib Husein dan Abdur, walau dengan canda-canda yang membuat kita terbahak-bahak. Mereka menyadarkan kita untuk mengedepankan sikap toleran dalam lingkungan keluarga dan bermasyarakat. Tindakan intoleran harus kita pinggirkan dan tuntaskan. Tidak boleh ada. Itu semua di mulai dari dunia pendidikan. Ini tantangan besar kita,” jelas Hendarman.
 
“Gerakan penuntasan intoleransi harus jadi salah satu prioritas Kemendikbudristek seperti disampaikan Mas Menteri. Di samping itu, kita juga harus menuntuskan perundungan dan kekerasan seksual, yang semuanya kita rajut dalam narasi Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan. Kita menginginkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Ini harapan kita semua agar kemanapun kita berada, kita lebih aman dan nyaman untuk berkarya bagi negara kita,” ungkap Hendarman.
 
Kapuspeka Hendarman juga bersyukur acara hari ini telah dibuka oleh Mendikbudristek. “Terima kasih Mas Menteri yang sudah membuka webinar hari ini. Untuk pertama kalinya pembukaan dilakukan oleh Mas Menteri. Ini luar biasa sekali. Terima kasih juga pada narasumber dan bintang tamu yang telah menyemarakkan acara hari ini dengan pesan-pesan dan harapan dari seluruh pengisi acara,” tutur Hendarman.
 
“Kita juga sudah belajar bahwa umat berbagai agama menjalankan puasa. Maka, puasa juga dapat memupuk tumbuh kembang persaudaraan. Seluruh pemangku kepentingan pendidikan berperan menghayati makna kemanusiaan dalam agama yang ia peluk. Dalam semangat Ramadan, semoga kita makin toleran dan saling meyayangi tanpa membeda-bedakan SARA. Kita harap pendidikan Indonesia lebih baik dengan mengedepankan sikap toleran dan menjunjung tinggi Bineka Tunggal Ika,” harap Hendarman.
 
“Pendidikan harusnya bebas dari intoleransi. Karena kreativitas, nalar kritis, dan inovasi hanya dapat berkembang jika peserta didik dan pendidik seluruh Indonesia belajar dengan merdeka tanpa paksaan dan tekanan, itulah esensi Merdeka Belajar,” tutup Mendikbudristek.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar
#CerdasBerkarakter
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor : 171 /sipres/A6/V/2021

Jakarta, 4 Mei 2021 – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2021 secara daring dan luring terbatas dengan protokol kesehatan ketat, di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta (2/5). Berbagai perwakilan pemangku kepentingan pendidikan turut hadir dalam acara tersebut, mulai dari perwakilan peserta didik, guru, hingga pegawai di lingkungan Kemendikbud. Generasi muda sebagai pemilik masa depan Merdeka Belajar yang terus digelorakan Kemendikbudristek pun hadir secara langsung pada peringatan Hardiknas 2021.

Andrea Pramesti Putri, peserta didik SMA Bopkri 1 Yogyakarta, adalah salah satu perwakilan generasi muda yang berkesempatan menjadi pengisi acara dalam peringatan Hardiknas 2021. Sebagai solois, ia menyanyikan lagu daerah Bolelebo, sedangkan lagu Gemu Famire dinyanyikannya secara berkelompok bersama tiga siswi lainnya. Ketika ditemui usai acara, Andrea terlihat gembira dan antusias. “Aku suka bernyanyi sejak umur empat tahun. Ketika itu masih iseng dan mencari model-model nyanyi yang paling tepat. Masuk SD, aku ikut les vokal, dan SMP belajar menyanyi klasik hingga sekarang,” jelas Andrea yang didampingi orang tuanya.

Andrea mengaku, peran orang tua amat penting dalam pembentukan talentanya bermusik. “Keluargaku pencinta musik. Ibuku bermain piano, kakak bermain biola. Hanya ayah yang tidak bisa main musik,” tutur Andrea tertawa. Gadis berusia 17 tahun ini mengungkapkan bahwa dirinya amat terinspirasi penyanyi pop dalam negeri seperti Rossa, Raisa, dan Lyodra. “Kalau dari luar negeri, aku suka Mariah Carey dan Ariana Grande,” ujar dia.

Ditanya mengenai cita-citanya, Andrea dengan yakin mengatakan ingin jadi dokter. “Aku ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,” ujarnya. Andrea juga berharap agar anak-anak muda di Indonesia bisa semakin mencintai musik. “Semoga pendidikan musik bisa diperbanyak lagi. Saya pribadi, awalnya belajar di genre pop, lalu belajar genre klasik. Di Indonesia, genre klasik kurang disukai. Mudah-mudahan lebih banyak yang suka,” harapnya. Ia pun juga berharap agar semua anak muda di Indonesia, pada Hardiknas ini, dapat semakin memaknai pendidikan. “Semua anak muda punya passion masing-masing. Semoga kita bisa meningkatkan passion kita di bidang masing-masing,” jelas Andrea.

Pelajar lain, Yohanes Nico, adalah seorang pemain terompet yang menjadi anggota orkestra Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Ia mengaku senang bermusik dan belajar pendidikan musik secara formal. “Harapannya, bisa masuk ISI Yogyakarta,” ungkapnya menyebut Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, perguruan tinggi seni yang terkemuka di Indonesia.

Nico, begitu ia akrab dipanggil, juga berharap agar pandemi Covid-19 cepat usai. “Saat pandemi ini, orkestra tidak ada (penampilan). Saya ingin kembali bermusik secara luring lagi. Bermusik secara online tidak seru,” katanya. Ia juga berharap, agar ke depannya pendidikan musik di Indonesia bisa lebih maju. “Semoga bisa lebih keren lagi,” ujar dia. Ditanya mengenai siapa musisi idolanya, Nico menjawab mantap, “Dewa 19.”

Sementara itu, anggota orkestra dari SMK Negeri 2 Bantul Yogyakarta, Raden Widyatama, mengaku bangga bisa turut tampil di Hardiknas tahun ini. “Saya bangga sebagai bagian dari pelajar dan bisa berpartisipasi di Hari Pendidikan Nasional di Kemendikbud,” ungkap Raden.

Ia juga mengaku bahwa sebagai peserta didik sekaligus musisi, ia masih berusaha memahami kebijakan-kebijakan Kemendikbudristek selama masa pandemi. Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi hambatan bagi para musisi untuk berkembang. “Mungkin karena pandemi, jadi bagi para musisi, kita lebih sulit berproses. Semula kita bisa latihan rutin secara luring, sekarang jadi daring. Menurut saya, ini kekurangannya,” terang Raden. Ia melanjutkan, “Saya merasa seharusnya para musisi diberi porsi (penampilan) yang lebih, karena para musisi bisa hidup kalau musik seperti ini. Jadi itu mungkin yang perlu diperhatikan lagi,” terang Raden. Ia berharap semoga para musisi tetap semangat bermusik dalam kondisi pandemi ini. “Semoga tetap semangat dan pantang menyerah,” harapnya.

Inisiatif Para Guru Bergerak Lewat Transformasi Budaya Digital

Sementara itu, Kepala Humas Ikatan Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (IGTIK) PGRI, Youri Lylie, mengamati bahwa kebebasan bergerak untuk pendidik pada dewasa ini lebih terbuka. “Peringatan Hardiknas hari ini adalah puncak perubahan-perubahan yang dilakukan Mas Menteri,” ungkap Youri yang turut hadir pada upacara Hardiknas di Kantor Kemendikbud.

Menurut dia, salah satu contohnya adalah pendekatan yang mengacu pada standar internasional seperti PISA, dan bukan standar lokal saja. “Jadi, saya lihat semua potensi guru itu semuanya bergerak. Semuanya melakukan perubahan yang sebelumnya mungkin cenderung monoton sebelum Mas Menteri ini. Jadi kita harap ada perubahan sistem pendidikan dengan berubahnya guru-guru itu menjadi lebih fleksibel melalui kebijakan Merdeka Belajar karena saat ini sudah banyak aspek yang diberikan kebebasan,” terang Youri.

Di sektor budaya, lanjut Youri, saat ini banyak dipengaruhi media sosial. “Sekarang lebih banyak yang mengonsumsi informasi dari media sosial daripada TV atau radio. Perubahannya lebih cepat,” kata Youri. Ia berharap, figur Mendikbudristek yang masih muda akan mampu membuat kebijakan kebudayaan berubah, salah satunya bisa membantu perubahan budaya ke arah yang lebih positif dengan memanfaatkan teknologi.

“Kita tahu Mas Menteri saat ini sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, salah satunya agar tidak seperti hasil PISA kemarin. Saya melihat Mas Menteri telah berbuat banyak agar peringkat PISA kita lebih baik dari sebelumnya,” tambah Youri lagi.

Youri mengamati, pada masa pandemi muncul inisiatif-insiatif yang datang dari para guru sendiri. “Tanpa bantuan pemerintah, guru-guru melakukan webinar sendiri. Misalnya melalui MGMP, guru-guru matematika bekerja sama dengan guru-guru TIK mengadakan webinar tentang literasi numerasi untuk meningkatkan kreativitas. Dan dengan mencari sponsor sendiri, peserta mendapatkan hadiah sponsor agar lebih semangat. Nantinya, pengetahuan yang didapatkan dari webinar dibagikan kepada siswa-siswanya,” jelas Youri antusias.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
TikTok: @kemdikbud.ri
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Jakarta, 28 April 2021 ---  Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hari ini menetapkan dan melantik Nadiem Anwar Makarim yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 72/P Tahun 2021 tentang Pembentukan dan Pengubahan Kementerian serta Pengangkatan Beberapa Menteri Negara Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengambil sumpah jabatan para menteri Kabinet Indonesia Maju untuk sisa masa jabatan periode tahun 2019-2024 dan Kepala BRIN yang dilantik pada hari ini, kemudian diakhiri dengan  pemberian ucapan selamat oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, diikuti oleh tamu undangan terbatas yang hadir.

Sementara itu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim dalam keterangan pers usai pelantikan di istana negara (28/04) mengatakan, “Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak Presiden Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia untuk mengemban amanah baru dalam upaya memajukan Indonesia. Riset dan teknologi adalah hal yang dekat di hati saya sehingga harapan saya besar untuk benar-benar meningkatkan kualitas dan inovasi di perguruan tinggi kita dalam bidang riset dan teknologi sebagai bagian dari Tridharma perguruan tinggi. Kami juga berharap untuk dapat menjadi mitra dan bekerja sama secara dekat dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).”

Nadiem juga berpesan bahwa penggabungan riset dan teknologi di tingkat perguruan tinggi menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) harus disikapi dengan semangat optimisme dalam upaya mengakselerasi karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, melalui penelitian dan program Kampus Merdeka serta program link and match, sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM di abad 21.

“Mari kita semua bergotong royong dalam menjalankan amanah besar ini dengan ketulusan hati, dan kami juga memohon kesabaran seluruh pemangku kepentingan untuk menunggu arahan yang tercantum di Peraturan Presiden yang mengatur skema organisasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.” Tutup Nadiem.





Foto: BPMI

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Pusdatin Kemendikbud, (26/4) – Program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) tahun 2021 yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, M.B.A pada Rabu 15 April 2021 lalu, telah diikuti oleh 80.000 guru yang telah mendaftar  berdasarkan data panitia pada hari Sabtu, 24 April 2021, pukul 21.23 WIB.

Provinsi jawa Timur berada tingkat teratas dengan 14.309 Guru, diikuti Jawa Barat dengan 12.024 Guru, DKI Jakarta dengan 9.510 guru dan Jawa Tengah 9.228 guru yang telah mendaftar. Selain itu terdapat 141 guru yang mendaftar yang berasal dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

Peserta yang mendaftar Program PembaTIK 2021 terdiri dari: Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari semua jenjang, guru tetap Yayasan, guru honorer di Instansi Pendidikan Pemerintah/Swasta dari semua jenjang yang telah mengajar minimal satu bidang studi di sekolahnya (guru mata pelajaran/guru kelas)

Jumlah Peserta PembaTIK 2021 Sabtu, 24 April 2021, Pkl 21.23 WIB

Ini adalah capaian luar biasa, karena hanya dalam kurun waktu 10 hari target peserta yang dicanankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim pada peluncuran 15 April 2021 lalu yakni sebanyak 75.000 guru mengikuti PembaTIK 2021 telah tercapai, ungkap Muhammad Hasan Chabibie, plt. Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin).

Pada kesempatan yang sama ia mengapresiasi kepada seluruh pihak yakni satuan kerja internal Kemdikbud, Kepala Daerah, Dinas Pendidikan provinsi maupun kota/ kabupaten dan khususnya Duta Rumah Belajar serta sahabat rumah belajar yang ada di seluruh Indonesia.

Hasil ini juga memberikan rasa optimisme bahwa guru diseluruh Indonesia memiliki motivasi yang sama dengan kebijakan Kemdikbud seperti yang disampaikan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim saat peluncuran PembaTIK lalu, “Guru-guru dapat mensinergikan seluruh kebijakan Kemendikbud yaitu Merdeka Belajar, Guru Penggerak dan juga bantuan kuota data internet”.

Melalui pemanfaatan bantuan kuota data Internet dari pemerintah, para guru dapat mengakses, membuat hingga mendistribusikan beragam konten pembelajaran hasil mengikuti PEMBATIK ini ke media sosial. Bahkan bisa digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Sehingga diharapkan para guru dan siswa meningkatkan kemampuan literasi digital, Guru yang dapat memaksimalkan potensi diri dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran, merupakan salah satu kriteria Guru Penggerak yang akan menjadi garda terdepan memajukan pendidikan di Indonesia,” imbuh Mendikbud.

Selanjutnya, Muhammad Hasan Chabibie berpesan kepada peserta yang sudah mendaftar dapat “mengikuti setiap tahapan demi tahapan yang telah dijadwalkan PembaTIK 2021, yang diharapkan menjadi pembelajaran untuk implementasikan model pemanfaatan TIK dengan sebaik-baiknya”.

Kegiatan PembaTIK tahun 2020 sukses diselenggarakan secara daring, tahun 2021 kembali dilakukan dengan 80.000 peserta

Pendaftaran telah ditutup setelah kuota peserta pada Gelombang 40 terpenuhi, Selanjutnya akan dibuka untuk pendaftaran tahap kedua. Selamat mengikuti program PembaTIK tahun 2021, Semoga ikhtiar kita untuk menjaga nyala api belajar peserta didik dapat terwujud dengan hadirnya berbagai inovasi pembelajaran yang menyenangkan oleh guru-guru Indonesia yang telah menunjukkan kemampuannya beradaptasi menghadapi dinamika perubahan lingkungan pendidikan di era digital ini.

 Jakarta, 19 April 2021 --- Sehubungan dengan beredarnya protes dari kalangan yang menuding Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atas penghilangan jejak tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menegaskan, “Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan”.

Hilmar yang juga dikenal sebagai sejarawan melengkapi pernyataannya dengan fakta. “Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud. Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” terangnya.

Meluruskan tudingan yang dimaksud kalangan tersebut, Hilmar menjelaskan “buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi. Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan. Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat”.

Lebih penting lagi, lanjut Hilmar, “naskah buku tersebut disusun pada tahun 2017, sebelum periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut,” jelasnya.

Keterlibatan publik menjadi faktor penting yang akan selalu dijaga oleh segenap unsur di lingkungan Kemendikbud. "Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi para tokoh dan para penerusnya,” tutup Hilmar.

https://www.nu.or.id/post/read/100448/kisah-gus-sholah-dirikan-museum-kh-hasyim-asyari-

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Sekretariat Jenderal

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Jakarta, 5 April 2021 --- Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 yang diumumkan Selasa (30/3) telah berlaku. Menindaklanjuti SKB Empat Menteri tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengimbau kepada seluruh satuan pendidikan yang guru dan tenaga pendidiknya sudah divaksinasi untuk segera memenuhi daftar periksa dan menawarkan opsi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

“SKB ini sudah berlaku. Tidak perlu menunggu Juli 2021 untuk melakukan PTM terbatas,” tekan Mendikbud. Lebih lanjut Mendikbud juga menyampaikan, “satuan pendidikan yang sudah ataupun dalam proses melakukan PTM terbatas walau pendidik dan tenaga kependidikannya belum divaksinasi tetap diperbolehkan melakukan PTM terbatas selama mengikuti protokol kesehatan dan sesuai izin pemerintah daerah”.

Dua puluh dua persen sekolah telah melakukan PTM terbatas dan telah menunjukkan berbagai praktik baik kebijakan PTM terbatas, diantaranya adalah SD Negeri 03 Pontianak Selatan, Kalimantan Barat dan SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan, Bengkulu.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jumeri mengatakan SDN 03 Pontianak Selatan telah melakukan berbagai persiapan dalam menunjang PTM terbatas.

Persiapan yang dilakukan SDN 03 Pontianak Selatan sebelum memulai PTM terbatas adalah membentuk tim satgas Covid-19, mempersiapkan prosedur operasional standar (POS) PTM terbatas, melakukan pemenuhan daftar periksa (menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun, melakukan kerja sama dengan Puskesmas, membeli thermo gun, pendataan penyakit bawaan warga sekolah, dst.), memperbanyak imbauan 4M di lingkungan sekolah, memberitahukan rencana PTM terbatas kepada RT, Kelurahan, dan Babinkamtibnas, melaporkan perkembangan kesiapan uji coba PTM terbatas pada dinas pendidikan (disdik) Kota Pontianak.
 
Agar PTM terbatas berlangsung secara aman, SD Negeri 03 Pontianak Selatan melakukan beberapa langkah untuk memastikan kelancaran. Langkah-langkah yang diambil di antaranya mengimbau setiap guru untuk melakukan rapid test secara berkala, mendata dan memastikan bahwa siswa dan guru yang sakit atau merasa tidak enak badan untuk tidak sekolah, selalu menerapkan protokol kesehatan, memastikan tidak ada yang masuk ke lingkungan sekolah tanpa izin dari keamanan sekolah, mengecek suhu setiap warga sekolah yang datang dan pergi serta mengimbau pendidik dan tenaga kependidikan untuk segera melakukan vaksinasi.
 
Dalam hal pembagian rombongan belajar, SDN 03 Pontianak Selatan menerapkan anjuran pemerintah yaitu maksimal 50 persen kapasitas per kelas sehingga dalam satu rombongan belajar terdapat dua kelompok belajar. Masing-masing rombongan belajar melakukan PTM terbatas sebanyak dua kali dalam satu minggu. “Siswa dengan nomor absen 1-16 masuk di hari Senin dan Rabu, siswa dengan nomor absen 17-32 masuk di hari Selasa dan Kamis,” tutur Jumeri.
 
Dalam satu kali pertemuan, berlangsung selama 3 jam dari pukul 07.00–10.00 WIB sehingga setiap siswa melakukan PTM terbatas sebanyak 6 jam dalam satu minggu. “Jam masuk dibuat selang seling dengan jeda beberapa menit agar ketika pulang tidak terjadi penumpukan,” kata Jumeri.
 
Dalam hal mengombinasikan PTM terbatas dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), SDN 03 Pontianak Selatan melakukan PJJ secara daring melalui grup Whatsapp untuk memberikan materi kepada kelompok belajar yang pada hari tersebut tidak giliran masuk ke sekolah. Pembahasan tugas dilakukan di ruang kelas bagi yang giliran masuk dan lewat aplikasi Zoom bagi yang giliran PJJ. Selanjutnya, hari Jumat digunakan untuk melakukan evaluasi PTM terbatas pada setiap minggunya.
 
Sekolah lain yang telah membagikan praktik baik dalam PTM terbatas adalah SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan. Dalam melaksanakan PTM terbatas, salah satu guru SMAN 9 Bengkulu Selatan, Meydia Afrina mengatakan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan juga wali siswa atau orang tua siswa untuk melakukan sosialisasi dengan dua tujuan, yakni pertama, mendengarkan pendapat orang tua ketika sekolah akan dibuka kembali, kemudian yang kedua adalah memastikan orang tua untuk menyiapkan anak mereka dengan protokol kesehatan yang ketat ketika kembali ke sekolah”.

Persiapan yang dilakukan SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan sebelum memulai PTM terbatas antara lain mempersiapkan kurikulum yang digunakan dalam kondisi khusus, melakukan pengadaan alat protokol kesehatan, mempersiapkan ruang belajar sesuai dengan petunjuk SKB Empat Menteri, mempersiapkan sarana fisik sekolah seperti sanitasi dan kebersihan sekolah dan melaporkan kegiatan yang menimbulkan kerumunan.
 
Selanjutnya, agar PTM terbatas tetap berlangsung secara aman, SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan selalu mengingatkan untuk patuh pada protokol kesehatan, tidak membuka kantin dan tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan kerumunan, selalu mengingatkan peserta didik untuk jaga iman, aman dan imun, melakukan pembiasaan hidup bersih dengan rajin cuci tangan dan tidak ada jam istirahat.
 
Kemudian contoh praktik baik dari SMAN 9 Bengkulu Selatan dalam pembagian rombongan belajar, rombongan belajar dibagi menjadi 2 shift yaitu pagi dan siang dengan jadwal per tingkat. Senin dan Kamis untuk kelas XII, Selasa dan Jumat untuk kelas XI, serta Rabu dan Sabtu untuk kelas X.
 
Dalam satu minggu, siswa melakukan PTM terbatas dengan total 4 jam 30 menit. Karena jam belajar tatap muka yang berkurang, maka ditambahkan PJJ dengan memberikan tambahan materi menggunakan berbagai platform yang dikuasai guru seperti Google Classroom, Whatsapp, dan lainnya. “Saya yakin banyak praktik baik lain dari sekolah di daerah-daerah lain dalam mempersiapkan PTM terbatas pada era kebiasaan baru,” tutur Jumeri.

Praktik baik lainnya juga hadir dari SDN 2 Pembataan. Plt. Kepala Sekolah, Nina Zurdiana, mengatakan pada kegiatan tatap muka di sekolah, siswa SDN 02 Pembataan terdiri dari 590 siswa. “Jadi kami menggunakan hanya dengan enam rombel, satu rombel terdiri dari 30 siswa. Namun kami bagi menjadi tiga kelompok, jadi satu kelompok terdiri dari kurang lebih 10-12 siswa dalam satu kelompoknya. Satu kelompok itu mempergunakan waktu selama satu jam untuk pembelajaran. Jadi pembelajaran itu dilaksanakan dengan menggunakan penjelasan saja kepada siswa, penguasaan tetap dilakukan di rumah,” ujar Nina Zurdiana.  
 
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#merdekabelajar
#bersamahadapikorona
#bersamabergerakpulih
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 105/sipres/A6/IV/2021